Pernahkah Anda berkata dalam hati: “Aku memang tidak berbakat di bidang ini” atau “Dia pintar karena keturunan, aku tidak akan bisa mengejarnya”? Jika iya, kemungkinan besar Anda sedang terjebak dalam fixed mindset. Pola pikir yang seolah nyaman, tetapi pelan-pelan membunuh potensi diri.
Sebaliknya, ada cara pandang lain yang belakangan makin populer dalam dunia psikologi pendidikan maupun bisnis: growth mindset. Konsep yang dipopulerkan oleh psikolog Stanford, Carol S. Dweck, ini mengubah cara kita memandang kemampuan diri. Bahwa kecerdasan, bakat, dan kapasitas manusia bukanlah sesuatu yang statis, melainkan bisa berkembang melalui usaha, strategi yang tepat, dan kesediaan untuk belajar dari kegagalan.
Pertanyaannya: mindset mana yang Anda pilih hari ini?
Fixed Mindset: Jalan Buntu yang Dibungkus Nyaman
Fixed mindset berakar pada keyakinan bahwa kemampuan adalah bawaan sejak lahir. Orang yang terjebak di dalamnya percaya ada “batas” yang tidak bisa ditembus.
Akibatnya, mereka:
- Menghindari tantangan.
- Cepat menyerah ketika menghadapi kesulitan.
- Lebih sibuk mencari alasan daripada mencari solusi.
Merasa terancam oleh keberhasilan orang lain.
Bayangkan seorang siswa yang sejak kecil sering mendengar ucapan, “Kamu memang tidak pintar matematika, lebih baik fokus ke seni saja.” Tanpa sadar, label itu melekat hingga dewasa. Begitu menghadapi persoalan angka, ia lebih memilih menyerah daripada mencoba.
Dalam dunia kerja, fixed mindset menjelma dalam kalimat-kalimat seperti:
“Saya tidak cocok dengan bidang itu.”
“Saya bukan tipe orang kreatif.”
“Saya memang bukan pemimpin.”
Padahal, di balik penolakan itu sering tersembunyi rasa takut gagal. Fixed mindset memberikan rasa aman semu: kita tidak perlu repot mencoba, karena sudah “ditakdirkan” tidak bisa.
Growth Mindset: Jalan Terjal yang Membuka Peluang
Berbeda 180 derajat, growth mindset melihat kegagalan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai bagian dari proses. Kata kunci utamanya adalah “belum.”
“Saya belum bisa bahasa Inggris.”
“Saya belum menguasai presentasi.”
“Saya belum ahli dalam memimpin.”
Kata belum menandakan ada ruang untuk belajar dan berkembang.
Tokoh-tokoh besar dalam sejarah membuktikannya. Thomas Edison konon gagal ribuan kali sebelum menemukan bola lampu. Michael Jordan pernah dikeluarkan dari tim basket sekolahnya. Oprah Winfrey dipecat dari pekerjaannya sebagai reporter televisi karena dianggap “tidak cocok di depan kamera.” Namun mereka tidak berhenti.
Kuncinya ada pada growth mindset: keyakinan bahwa kegagalan hanyalah proses menuju keberhasilan.
Apa Kata Sains?
Sejumlah riset mendukung gagasan ini. Carol Dweck dan rekan-rekannya dalam studinya menemukan, siswa yang diajarkan untuk memahami bahwa otak bisa berkembang melalui usaha- seperti otot yang dilatih – menunjukkan peningkatan motivasi belajar dan prestasi akademik.
Sebuah penelitian di Journal of Experimental Social Psychology (2018) bahkan menemukan bahwa growth mindset berhubungan dengan ketahanan mental (resilience) yang lebih baik dalam menghadapi tekanan hidup.
Di dunia kerja, survei LinkedIn Learning (2021) menunjukkan bahwa perusahaan dengan budaya growth mindset lebih adaptif terhadap perubahan dan lebih inovatif dalam mengembangkan produk. Artinya, ini bukan sekadar teori, melainkan strategi bertahan hidup di era serba cepat.
Mengapa Pilihan Ini Menentukan Hidup Anda?
Mindset memengaruhi hampir semua aspek kehidupan.
1. Karier
Fixed mindset membuat kita terjebak di zona nyaman. Seorang karyawan dengan pola pikir ini cenderung menghindari tugas baru karena takut terlihat gagal. Sebaliknya, growth mindset membuat kita berani melangkah, sekalipun risiko salah cukup besar.
2. Hubungan sosial
Dalam hubungan, fixed mindset menumbuhkan keyakinan bahwa sifat pasangan tidak bisa berubah. Akibatnya, konflik sering berujung pada putus atau perceraian. Growth mindset membuka ruang komunikasi: “Kita bisa belajar memperbaiki.”
3. Pendidikan anak
Orang tua dengan growth mindset cenderung memuji usaha anak, bukan hanya hasil. Alih-alih berkata, “Kamu pintar sekali,” mereka berkata, “Kamu hebat sudah berusaha keras.” Bedanya kecil, tetapi dampaknya besar: anak belajar bahwa proses sama berharganya dengan hasil.
4. Kehidupan pribadi
Dalam menghadapi krisis-PHK, sakit, atau kegagalan bisnis, growth mindset menjadikan kita lebih tahan banting. Kita bisa berkata, “Ini sulit, tapi saya akan mencari jalan.”
Baca juga:
Bukan Sibuk, Tapi Produktif: Cara Menyusun Waktu Tanpa Stres
Bagaimana Menumbuhkan Growth Mindset?
Pertama, sadari dulu bahwa setiap orang memiliki campuran keduanya. Tidak ada yang 100% growth atau fixed. Kabar baiknya, mindset bisa dilatih.
1. Ubah narasi diri
Dari “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa.”
2. Rayakan proses, bukan hanya hasil
Apresiasi setiap usaha kecil yang dilakukan.
3. Belajar dari kritik
Fixed mindset membuat kritik terasa ancaman, growth mindset melihatnya sebagai bahan bakar.
4. Kelilingi diri dengan orang yang tepat
Lingkungan yang mendukung pertumbuhan akan memengaruhi pola pikir kita.
5. Berani mencoba hal baru
Setiap langkah baru adalah kesempatan melatih otot belajar.
Refleksi Sosial: Bangsa Butuh Growth Mindset
Jika kita tarik ke level masyarakat, pertanyaan ini menjadi jauh lebih penting. Apakah bangsa ini memilih fixed mindset merasa kalah sejak awal, terjebak pada alasan klasik “memang begini dari dulu” atau memilih growth mindset, percaya bahwa dengan kerja keras, pendidikan, dan kolaborasi, kita bisa berubah?
Dalam konteks pembangunan, growth mindset menjadi syarat utama menghadapi era digital, krisis iklim, dan tantangan ekonomi global. Negara yang cepat beradaptasi adalah negara yang warganya percaya bahwa selalu ada ruang belajar.
Saatnya Memilih
Hidup selalu memberi dua pilihan: berhenti karena merasa “tidak bisa,” atau melangkah dengan keyakinan “saya belum bisa-tapi saya akan belajar.”
Growth mindset bukan soal bakat, melainkan soal keputusan. Keputusan untuk terus mencoba, bangkit dari kegagalan, dan membuka diri pada proses panjang yang kadang melelahkan.
Bertahan dengan fixed mindset memang terasa aman. Tapi dunia tidak menunggu. Dunia terus berubah. Dan hanya mereka yang mau belajar yang akan tetap berdiri tegak.
Jadi, mindset mana yang Anda pilih hari ini?
