Pernahkah Anda merasa hidup ini seperti lari marathon, tapi garis start setiap orang berbeda? Ada yang mulai dari awal, ngos-ngosan mengejar kesempatan. Ada pula yang lahir sudah dekat garis finish, tinggal sedikit berlari lalu mengangkat piala. Fenomena inilah yang belakangan populer dengan sebutan Nepo Kids.
Istilah ini singkatan dari nepotism kids atau nepotism babies, yaitu anak-anak yang mendapat jalan mulus berkat orang tuanya yang sudah mapan – entah di dunia hiburan, politik, maupun bisnis. Mereka seakan punya “tiket VIP” untuk sukses, sementara yang lain harus berjuang dari nol.
Dari Hollywood ke Nepal
Awalnya, istilah Nepo Kids mencuat di Hollywood. Publik mulai menyoroti aktor dan aktris muda yang langsung mendapat peran utama karena orang tuanya bintang besar. Media sosial pun penuh komentar sinis: “Kalau bukan anaknya si A, apakah kariernya bisa secepat ini?”
Menariknya, istilah ini belakangan dipakai juga di Nepal. Gelombang protes anak muda di sana bukan hanya menentang pembatasan media sosial, tetapi juga mengkritik fenomena “Nepo Kids” politik. Anak-anak elite dianggap hidup nyaman dengan akses dan fasilitas luar biasa, sementara mayoritas pemuda Nepal harus banting tulang mencari kerja, bahkan sampai merantau ke luar negeri.
Nepo Kids ala Indonesia
Kalau melihat ke Indonesia, fenomena serupa sebenarnya bukan hal baru. Kita juga punya “versi lokal” Nepo Kids di berbagai bidang.
1. Dunia hiburan
Sejak dulu, anak artis sudah sering muncul di layar kaca. Ada yang jadi aktor, aktris, atau penyanyi, dan langsung populer. Tentu saja ada yang berbakat, tapi publik juga sering membandingkan: “Kalau bukan anaknya si X, apakah bisa secepat ini masuk industri?”
2. Dunia politik
Fenomena dinasti politik makin jelas terlihat. Dari tingkat daerah sampai nasional, banyak anak atau kerabat pejabat ikut maju dalam kontestasi pemilu. Publik sering menyoroti apakah ini murni soal kapasitas, atau lebih karena akses modal, jaringan, dan nama besar keluarga.
3. Dunia bisnis
Di kalangan pengusaha, kita juga menemukan banyak anak konglomerat yang langsung duduk di kursi manajerial atau direksi. Tidak sedikit yang kompeten, tapi sering ada komentar bahwa posisi itu sudah disiapkan sejak awal, sehingga mereka tidak perlu bersusah payah dari bawah.
4. Dunia pendidikan
Fenomena serupa juga muncul di ranah pendidikan. Ada anak pejabat atau tokoh tertentu yang lebih mudah masuk ke sekolah favorit atau perguruan tinggi ternama karena akses dan koneksi keluarga. Bahkan di tingkat pascasarjana atau program beasiswa, publik kadang mencurigai adanya jalur istimewa bagi mereka yang “punya nama besar.”
Hal ini menimbulkan kesan bahwa pendidikan – yang seharusnya menjadi ruang paling meritokratis – masih bisa ditembus oleh privilege.
Rasa Tidak Adil
Apa yang membuat istilah Nepo Kids menggema? Satu kata: ketidakadilan. Anak muda biasa harus belajar keras, menyusun CV, mencari beasiswa, antre melamar pekerjaan, bahkan rela gaji kecil demi pengalaman. Di sisi lain, anak-anak dari kalangan tertentu seolah bisa “memotong jalur.”
Fenomena ini menimbulkan jurang start: sebagian orang mulai dari titik nol, sementara yang lain sudah berlari dekat garis finish. Akibatnya, meritokrasi- yakni sistem yang mengutamakan prestasi- sering terasa semu.
Di media sosial, kita sering melihat curhat generasi muda: “Kami diminta kerja keras, tapi faktanya yang dapat posisi malah anak pejabat atau kerabat bos.” Rasa frustrasi ini yang membuat istilah Nepo Kids mudah viral, karena mewakili keresahan kolektif.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Apakah berarti semua Nepo Kids tidak pantas sukses? Tidak selalu. Ada juga yang memang berbakat, rajin, dan berprestasi. Hanya saja, mereka memulai dari “jalur cepat” yang tidak semua orang punya.
Bagi kita yang bukan Nepo Kids, ada beberapa hal yang bisa dipetik:
1. Privilege itu nyata, tapi skill tetap penting.
Kita tidak bisa memilih lahir dari keluarga siapa, tetapi kita bisa memilih bagaimana berjuang. Semakin banyak skill yang kita kuasai, semakin besar peluang untuk menembus ketatnya persaingan.
2. Jangan minder, tapi juga jangan naif.
Kita boleh mengakui adanya ketimpangan akses, tetapi jangan berhenti berusaha. Di era digital, jalur alternatif terbuka lebar: membangun portofolio online, berkarya di media sosial, hingga menciptakan peluang usaha sendiri.
3. Kritis pada sistem.
Masyarakat perlu mengawasi praktik nepotisme, terutama di dunia politik dan birokrasi. Kalau tidak dikontrol, dinasti bisa menggurita dan menutup peluang bagi talenta lain. Transparansi dan akuntabilitas harus terus diperjuangkan.
4. Bangun jaringan sehat.
Privilege sering datang dari koneksi. Anak muda perlu belajar berjejaring, bukan dengan “jalan pintas kotor,” melainkan dengan kolaborasi positif, komunitas, dan networking profesional.
Baca juga: Melawan Nepo Kids dan Sugar Coating dengan Akar Budaya: Kesederhanaan Halaman all – Kompasiana.com
Penutup
Kita memang tidak bisa memilih dilahirkan sebagai anak siapa. Ada yang lahir dengan segala fasilitas, ada yang harus berjuang dari nol. Namun yang membedakan adalah bagaimana setiap orang menggunakan kesempatan yang ada.
Fenomena Nepo Kids bisa menjadi cermin: apakah kita hanya iri, atau justru bisa belajar untuk membangun sistem yang lebih adil?
Di Indonesia, istilah ini mungkin masih sebatas obrolan di media sosial, tapi substansinya nyata – nepotisme masih kuat dalam banyak lini kehidupan.
Harapan ke depan, prestasi bisa berjalan lebih cepat daripada privilege. Karena pada akhirnya, bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang dikuasai oleh Nepo Kids semata, tetapi bangsa yang memberi ruang bagi semua anak muda untuk tumbuh, berprestasi, dan bersaing secara adil.
