Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan ketika menghadapi persoalan adalah terburu-buru mencari solusi. Begitu melihat sampah berserakan di lingkungan sekolah, misalnya, sebagian orang langsung menyimpulkan bahwa siswa kurang disiplin. Ada pula yang segera mengusulkan penambahan tempat sampah atau memasang lebih banyak imbauan kebersihan. Solusi-solusi tersebut memang terdengar logis, tetapi muncul satu pertanyaan penting, apakah kita benar-benar sudah memahami masalahnya?
Di sinilah letak esensi berpikir komputasional. Cara berpikir ini mengajarkan bahwa sebuah solusi tidak boleh lahir dari dugaan, melainkan dari proses memahami persoalan secara sistematis. Sama seperti seorang dokter yang tidak langsung memberikan obat sebelum mengetahui penyebab penyakit, seseorang yang berpikir secara komputasional akan berusaha mengenali masalah terlebih dahulu sebelum menentukan langkah penyelesaiannya.
Prinsip itulah yang saya coba hadirkan dalam pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial di kelas. Saya tidak membuka pelajaran dengan menjelaskan definisi berpikir komputasional ataupun meminta siswa menghafalkan empat pilarnya. Sebaliknya, saya menampilkan foto deretan tempat sampah di lingkungan sekolah yang saya ambil beberapa saat sebelum pembelajaran dimulai. Foto itu menjadi titik awal untuk mengajak siswa berpikir.
Melalui Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), saya mengajukan satu pertanyaan sederhana.
“Menurut kalian, mengapa meskipun tempat sampah sudah tersedia, masih ada sampah yang tidak dibuang pada tempatnya?”
Saya sengaja tidak meminta mereka langsung memberikan solusi. Sebaliknya, saya meminta setiap kelompok mengidentifikasi sebanyak mungkin kemungkinan penyebabnya. Langkah ini penting karena berpikir komputasional selalu dimulai dengan memahami persoalan, bukan menebak jawabannya.
Diskusi pun berlangsung menarik. Setiap kelompok menemukan sudut pandang yang berbeda. Ada yang menyoroti kebiasaan siswa, ada yang memperhatikan lokasi tempat sampah, ada yang menilai jumlah tempat sampah belum memadai, sementara kelompok lain justru menganggap informasi mengenai pemilahan sampah belum dipahami dengan baik. Tidak ada jawaban yang langsung saya benarkan ataupun saya salahkan. Saya justru meminta mereka menjelaskan alasan di balik setiap pendapat yang disampaikan.
Tanpa mereka sadari, mereka sedang melakukan proses pertama dalam berpikir komputasional, yaitu memecah persoalan yang besar menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Persoalan “sampah di sekolah” tidak lagi dipandang sebagai satu masalah tunggal, tetapi sebagai kumpulan beberapa persoalan yang saling berkaitan. Ada persoalan perilaku, sarana, informasi, hingga pengelolaan lingkungan sekolah. Ketika masalah berhasil diuraikan, penyelesaiannya pun menjadi lebih terarah.
Langkah berikutnya adalah mencari pola. Saya meminta siswa memperhatikan apakah kondisi tersebut terjadi di seluruh lingkungan sekolah atau hanya di lokasi tertentu. Mereka mulai menemukan bahwa tempat sampah di sekitar kantin lebih cepat penuh dibandingkan tempat lain, sementara jenis sampah yang paling banyak ditemukan adalah botol plastik dan kemasan makanan. Mereka menyadari bahwa keputusan yang baik harus didasarkan pada fakta, bukan sekadar dugaan.
Setelah itu, siswa belajar melakukan abstraksi, yaitu memilih informasi yang benar-benar penting. Mereka menyadari bahwa warna tempat sampah bukanlah persoalan utama. Yang lebih penting adalah letaknya, tingkat keterisian, kebiasaan warga sekolah, serta pemahaman mengenai pemilahan sampah. Dengan memusatkan perhatian pada informasi yang relevan, mereka mulai mampu melihat akar persoalan dengan lebih jelas.
Baca Juga: Berfikir Komputasional: Belajar Cara Menyelesaikan Masalah, Bukan Sekadar Belajar Koding
Barulah pada tahap berikutnya siswa menyusun algoritma, yaitu langkah-langkah penyelesaian yang logis dan sistematis. Mereka merancang berbagai alternatif solusi, mulai dari penataan ulang lokasi tempat sampah, pemberian label yang lebih informatif, edukasi kepada siswa, hingga evaluasi berkala terhadap efektivitas program tersebut. Menariknya, setiap solusi disusun berdasarkan hasil analisis yang telah mereka lakukan sebelumnya, bukan berdasarkan perkiraan semata.
Saya kemudian mengajak mereka melakukan simulasi sederhana. Mereka mendiskusikan apa yang mungkin terjadi jika salah satu solusi diterapkan. Apakah jumlah sampah akan berkurang? Apakah siswa akan lebih mudah memilah sampah? Bagaimana jika hasilnya belum sesuai harapan? Dari sini mereka memahami bahwa sebuah solusi perlu diuji dan dievaluasi sebelum dinyatakan berhasil.
Pada akhirnya, siswa menyadari bahwa berpikir komputasional bukanlah kemampuan menggunakan komputer ataupun menulis bahasa pemrograman. Berpikir komputasional adalah cara berpikir yang membantu seseorang memahami masalah, menganalisis berbagai kemungkinan, memilih informasi yang penting, kemudian menyusun solusi secara logis, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Melalui persoalan sederhana tentang sampah di sekolah, saya melihat sendiri bagaimana cara berpikir siswa mulai berubah. Mereka tidak lagi terburu-buru menjawab, tetapi belajar bertanya. Mereka tidak lagi sekadar mencari solusi, tetapi terlebih dahulu mencari akar persoalan. Bagi saya, di situlah tujuan utama pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial dimulai. Sebelum siswa mampu membuat program komputer, mereka harus terlebih dahulu mampu berpikir seperti seorang pemecah masalah. Itulah hakikat berpikir komputasional.
